Belajar sepanjang hayat, termasuk belajar fiqh, adalah kebutuhan. Itu bagian dari ikhtiar men-syari'at-kan langkah dan laku menuju kesempurnaan misi kehidupan. Sudah beratus-ratus tahun keragaman fiqh diperbincangkan, diperbandingkan, diperdebatkan... dan tidak ada satu kesepakatan tunggal. Jadi, tak perlu mendambakan keajaiban akan datangnya satu baju untuk semua.
Akan menjadi indah bila fiqh yang telah dipelajari diambil sebagai pilihan personal untuk diamalkan dengan penuh keyakinan. Tapi, tak ada guna menyertainya dengan rasa puas diri dan hawa jumawa kesempurnaan. Lalu memandang yang lain tidak kebagian kebaikan.
Bila rasa ketidak-sempurnaan masih berdenyut, itu pertanda ruh belajar masih hidup. Dan, dengan itu orang tidak akan pernah sempat mengukur, membandingkan, apalagi menilai kesalehan orang lain. Saling mengajak, saling menasihati, saling mendukung... semua akan berjalan syahdu karena setiap orang lebih disibukkan oleh rasa ketidakpastian diri di hadapan Sang Pencipta, Pemutus Segala Perkara.
Orang yang sudah bisa menjalankan shalat tidak akan membandingkan shalatnya dengan shalat orang lain, bahkan dengan orang yang belum sanggup menjalankan shalat. Orang yang sudah sanggup berpuasa tidak memandang rendah puasa orang lain, juga tidak merasa perlu memandang rendah orang yang belum sanggup menjalankan puasa. Orang yang mengenakan hijab tidak puya waktu untuk menghina orang yang tidak berhijab. Orang yang sudah belajar 100 kitab fiqh merasa belum ada apa-apanya, apalagi seperti saya yang baru belajar dari buku terjemahan.
Dalam menjalankan peran-peran kehidupan, yang diharapkan bukanlah akumulasi ritual ibadah, melainkan buah ibadah dalam wujud manfaat bagi diri dan orang lain. Manfaat adalah nilai kesalehan yang sesungguhnya. Semua ritual ibadah adalah sarana komunikasi-dialog intim dengan Sang Pencipta dalam rangka mengasah dan membangun kualitas diri untuk menjadi bermanfaat, dan itulah budi pekerti yang luhur (akhlaqul karimah).
Karena itu, ritual ibadah hanya untuk disimpan rapat dalam saluran komunikasi intim dengan Sang Pencipta, lalu tunjukkan pengabdian kepada-Nya dengan usaha menghadirkan manfaat. Hanya berusaha, karena apa yang sudah dilakukan pasti tidak pernah sebanding dengan yang seharusnya bisa dilakukan. Bukan siapa-siapa yang menghalangi, melainkan hawa nafsu dalam diri. Allah-al Musta'aan.






0 comments:
Post a Comment