Kau ingin tahu apa yang kupikirkan tentang Pancasila?
Baiklah. Pancasila adalah hasil ikhtiar sebuah bangsa yang mendiami bumi Nusantara. Bukan di Amerika, Eropa, Jazirah Arabia, atau yang lainnya. Ikhtiar untuk memahmi dirinya, memahami alam sekelilingnya, memahami sejarahnya, memahami warna-warninya, memahami kehidupannya... memahami martabat dan cita-citanya. Dan, hari itu, tanggal 1 Juni 1945, tercetuslah Pancasila.
Benar, Pancasila bukan kitab suci. Tapi, Pancasila dirumuskan oleh para pendiri bangsa yang sudah belajar kitab-kitab suci. Engkau merasa lebih mengerti kitab suci dari para pendahulu kita? Engkau hendak menyalahkan mereka yang menyusun falsafah bernegara? Jika tidak demikian, berarti sikap kita sama.
Jangan pura-pura lupa, bahwa hari-hari ini Pancasila sedang dicoba-lupakan atas nama persekutuan nafsu-nafsu politik sementara. Sebagian anak-anak bangsa diseru untuk menghapus warna-warninya sendiri. Mereka menjadi telengas merendahkan sesamanya. Mereka berilusi tentang kesendirian yang perkasa. Mereka menyayat dan melukai dengan senjata yang dibawa tentah dari mana.
Nafsu itu begitu merajalela, membuat benci dan fitnah menjadi ringan bertebaran. Nafsu itu begitu gelap pekat, menutupi kewaspadaan pada korupsi sebagai musuh besar bersama. Nafsu itu begitu samar, menyelinap di setiap celah kehidupan bangsa, di kantor-kantor pemerintah, di pasar-pasar, di terminal-terminal, di laut, di darat, dan di udara.
Bahkan, di sekolah-sekolah, nafsu membuai anak-anak dalam arena balapan bersikut-sikutan sejak belia. Nafsu membuat mereka tidak suka membaca, walaupun rajin sekolah.
Begitulah yang aku pikirkan dalam gundah gulana. Kalau engkau tidak setuju, aku bisa apa?






0 comments:
Post a Comment